Sekretariat : 081316004549

IKA UBK Berharap Pengawasan Miras Lebih Intensif
IKA UBK Berharap Pengawasan Miras Lebih Intensif

IKA UBK Berharap Pengawasan Miras Lebih Intensif

Minuman keras (miras) oplosan kembali memakan korban jiwa. Kali ini terbanyak di wilayah Jakarta dan Depok, membuat 19 orang meregang nyawa setelah menenggak minuman racikan yang dibeli dari toko jamu. Selain korban tewas, minuman haram tersebut juga menyebabkan puluhan orang harus menjalani perawatan intensif di beberapa rumah sakit.

Miras memang kerap menimbulkan banyak masalah. Minum miras secara berlebih dapat menyebabkan sang peminum menjadi mabuk dan sampai tidak sadarkan diri diri. Minuman dengan kadar alkohol yang beraneka ragam ini banyak dijual di beberapa toko yang tersebar di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Selain memabukan, ternyata miras juga dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi dan berakibat fatal jika dikonsumsi sebelum berkendara. Semakin tinggi kadar alkohol dalam miras, semakin parah pula efek mabuk yang ditimbulkan.

Bagi pemabuk dengan dana minim, miras oplosan menjadi pilihan bagi mereka. Sayang, miras oplosan tidak selamanya bisa menggantikan posisi miras legal. Sang peracik miras tidak akan mengetahui berapa kadar alkohol yang dihasilkan, setelah mencampur beberapa bahan yang telah disediakan. Apalagi bahan yang diracik adalah obat luka luar yang seharusnya tidak dikonsumsi.

Miras oplosan yang berhasil ditemukan di lokasi kejadian, diketahui adanya kadar alkohol hingga 98 persen, yang dicampur dengan obat luka, minuman bersoda, alkohol murni, dan Rivanol. Seperti diketahui, obat luka dan Rivanol adalah obat luka luar bukan untuk dikonsumsi.

Miras oplosan menyebabkan 7 orang tewas di Duren Sawit, 2 orang tewas di Jatinegara dan Pulogadung, 3 orang tewas di Jagakarsa, dan 7 orang tewas di Depok. Total jumlah korban tewas akibat miras oplosan menjadi 19 orang. Sementara itu, puluhan orang lainnya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit Jakarta dan Depok.

Polisi pun sudah menetapkan penjual miras oplosan di Jagakarsa sebagai tersangka, karena menjual barang yang berbahaya bagi nyawa orang lain. Sementara itu, kasus miras oplosan di Duren Sawit masih terus didalami untuk mengetahui siapa peracik dan penjualnya.

Akibat rendahnya pemahaman tentang berbahayanya miras, korban miras oplosan menurut ahli kesehatan tak hanya berdampak pada ganguan kesehatan tetapi juga berujung kematian.

Penanganan terlambat terhadap korban untuk dibawa ke rumah sakit, kerap kali berakhir dengan tewasnya korban. Menurut ahli kesehatan, alkohol bisa jadi racun bagi tubuh.

“Alkohol itu nama kimianya metanol. Metanol bila diserap oleh tubuh dan dimetabolisme oleh liver maka akan menghasilkan asam format. Inilah yang menjadi racun dalam tubuh,” tambahnya.

Melihat dampaknya yang berujung pada kematian, Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Bung Karno (IKA UBK) Rosidi Roslan mengajak masyarakat khususnya generasi muda untuk tidak mencoba dan mendekati miras. Selain dapat menjadi racun, miras juga diharamkan oleh negara dan agama.

“Dampak miras ini sangat dahsyat berujung pada kematian, maka janganlah iseng mencoba apalagi meminumnya dalam jumlah banyak,” ujar Rosidi yang juga pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia.

Jadi, tambah Rosidi, sebelum menenggak miras, berpikirlah dengan bagaimana nasib keluarga, anak dan istri kita di rumah apabila kita meninggal akibat minum miras yang harganya tak seberapa,” jelas Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 ini.

Rosidi juga meminta kepada para aparatur terkait untuk terus secara intensif berkesinambungan melakukan pengawasan terhadap peredaran miras oplosan guna meminimalisir jatuhnya korban jiwa.

“Dengan pengawasan dan razia yang dilakukan terus menerus, diharapkan peredaran miras akan berhenti,” tutup Rosidi.

Facebook