Sekretariat : 081316004549

Yuk! Raih Suara Generasi Milenial Dengan Bermartabat
Yuk! Raih Suara Generasi Milenial Dengan Bermartabat

Yuk! Raih Suara Generasi Milenial Dengan Bermartabat

Menurut prediksi, suara generasi milenial atau pemilih pemula akan sangat menentukan dalam Pemilihan Legislatif mau pun Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019.

Pengamat Politik Voxpop Center Pangi S Chaniago menerangkan, jumlah pemilih Pemilu 2019 dari kalangan milenial sekitar 40 persen. Mereka adalah pemilih pemula yang berusia 17-21 tahun.

“Generasi milenial kunci kemenangan Pileg dan Pilpres,” tutur Pangi dalam diskusi bertema ‘Partisipasi Generasi Milenial Dalam Pemilu 2019’ di Kawasan Senayan, Jakarta, Jumat (6/4/18).

Diskusi digelar oleh Angkata Muda Partai Golkar (AMPG), membahas partisipasi generasi millennial dalam pemilu tahun 2019 nanti.

Lebih lanjut Pangi mengatakan, generasi milenial memiliki sifat kreatif, percaya diri, tidak loyal serta tidak ingin menjadi objek politik.

Menurutnya, generasi milenial bukan tipe yang mau diatur. “Mereka sangat erat kaitannya dengan media sosial,” katanya.

Seperti dikatakan Wakil Bendahara Umum Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar Ahmad Irawan, sekitar 40 persen dari jumlah pemilih di Pemilu 2019 mendatang merupakan generasi milenial.

“Siapa yang bisa menarik hatinya bisa menang Pemilu,” anggapnya.

Anggota KPU RI Hasyim Asy’ari menambahkan bahwa generasi millenial di Indonesia memiliki semangat inklusif yang lebih tinggi daripada generasi sebelummnya. Yakni, semangat merangkul segala macam latar belakang, ras, suku, agama.

Politik inklusif menjadi cara atau metode strategis untuk berpatisipasi dalam berpolitik, demokrasi, dan pemilu.

“Karena dengan begitu akan banyak kawan. Dengan banyak kawan maka banyak pula sumber daya, sehingga ketika memainkan peran politik di level masyarakat politik, langkah-langkahnya akan menjadi lebih ringan,” jelasnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 (LBH Antara 56) Rosidi Roslan mengajak para partai politik peserta pemilu untuk berjuang meraih suara generasi milenial tanpa saling sikut dan menjelekan satu sama lain. Dan menyarankan untuk berkampanye sesuai koridor dan ketentuan.

“Silakan raih sebanyak mungkin suara dari berbagai kalangan di masyarakat tapi harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku agar tidak menimbulkan kegaduhan,” kata Rosidi.

Rosidi yang juga Wakil Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Bung Karno berpesan agar jangan menabrak norma-norma dan peraturan yang telah ditentukan dalam pemilu. Karena menurutnya, dalam pesta demokrasi, bukan hanya aparat terkait yang memonitor tetapi juga masyarakat luas lainnya.

Sehingga, lanjut calon magister hukum Fakultas Hukum Universitas Bung Karno ini mengatakan, pelanggaran sekecil apapun dapat diketahui dan pastinya diberi sanksi demi tegaknya hukum. Imbasnya, nama besar partai akan tercoreng dan akan mendapat rapor merah di masyarakat.

Terakhir Rosidi berpesan kepada para pekerja partai agar berkampanye dengan cara bermartabat menuju Indonesia lebih mulia.

Facebook