Sekretariat : 081316004549

HAN 2018, Anak Indonesia Masih Dibayangi Makanan Berbahaya
HAN 2018, Anak Indonesia Masih Dibayangi Makanan Berbahaya

HAN 2018, Anak Indonesia Masih Dibayangi Makanan Berbahaya

LBH Anarki Nusantara 56 | Seperti diberitakan berbagai media, di Indonesia, terutama pada daerah yang daerah perekonomiannya rendah masih terjadi peredaran dan konsumsi pangan yang berbahaya bagi anak. Tentu ini menjadi tantangan peningkatan derajat kesehatan manusia Indonesia.
Karena jika anak-anak Indonesia tidak dilindungi dari makanan dan minuman terutama pangan olahan termasuk jajanan yang mengandung zat berbahaya, derajat kesehatan dan kualitas bangsa Indonesia di masa depan akan semakin turun.
Menurut Ketua Dewan Pembina Lembaga Bantuan Hukum Anarki Nusantara 56 Rosidi Roslan, berbagai persoalan dan tantangan utama yang dihadapi anak-anak Indonesia beragam mulai dari kekerasan, perundungan, pendidikan anak, hingga stunting, pangan berbahaya yang mengintai anak-anak juga menjadi salah satu persoalan serius yang patut mendapat perhatian semua pihak.
“Masih banyak tantangan perlindungan anak di negeri ini. Pangan berbahaya yang mengintai anak-anak kita, bagi saya menjadi persoalan serius yang harus segera diurai kerena kualitas pangan anak yang tidak baik akan menganggu tumbuh kembang anak baik fisik, kemajuan psikologis, serta pengenalan daya nalar,” ujar Rosidi yang juga lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Tentunya, sambung Rosidi, ini berbahaya bagi masa depan negeri ini. Kita harus lindungi anak-anak kita dari pangan yang mengandung zat-zat berbahaya.
Rosidi mengungkapkan, saat ini begitu banyak produk makanan baik produksi pabrikan maupun jajanan anak sekolah yang menjadikan anak-anak sebagai target pasar, tetapi mengabaikan efek samping kesehatan yang akan dialami anak jika dikonsumsi apalagi dalam jumlah banyak dan waktu yang panjang.
Lebih lanjut Rosidi menambahkan, bahkan bahaya besar semakin mengintai anak ketika jaringan besar narkoba mengemas narkotika dalam bentuk jajanan anak. Sangat disayangkan pula saat orang tua juga tidak mempunyai pengetahuan cukup dan kasadaran tinggi untuk memilih dan menyaring makanan apa saja yang boleh dikonsumsi anak sehingga anak mudah terkena penyakit serius seperti diabetes.
“Kerap kita temui makanan dan minuman yang katanya boleh buat anak-anak tetapi mengandung bahan tambahan pangan yang sebenarnya tidak baik, mulai dari pemanis buatan, pewarna makanan, lemak trans dan minyak terhidrogenasi parsial, sodium benzoat, pengawet kimiawi, dan zat tambahan lainnya. Belum lagi masih ditemukan jajanan anak yang mengandung zat-zat berbahaya,” jelas Rosidi.
Untuk itu, sambung Rosidi, bertepatan dengan Hari Anak Nasional 2018, para pengambil kebijakan di bidang kesehatan di negeri ini harus lebih intensif mengedukasi dan mengkampanyekan terutama kepada orang tua agar melindungi anak-anak mereka dari makanan dan minuman yang mengandung bahan tambahan pangan yang berbahaya bagi kesehatan anak.
Selain itu, yang tidak kalah penting, kata Rosidi, Pemerintah harus menegaskan kepada semua produsen makanan yang menjadikan anak-anak sebagai terget pasarnya untuk berlaku jujur dan memberi peringatan kandungan zat dalam makanannya yang diproduksinya.
“Kasus SKM (susu kental manis) bisa jadi pelajaran bahwa pangan yang selama ini kita anggap sehat dan baik bagi anak ternyata peruntukannya bukan untuk diminum sehari-hari seperti yang selama ini jamak kita lakukan, karena SKM bukan susu,” tutup Rosidi.
Facebook